Kamis, 10 Juli 2014

GELEGAR



GELEGAR

Gelegar berbunyi…
Menerangi kala gelap, menyirami kala kering…
Gelegar menghanyutkan dan menenggelamkan…
Kesunyian dan ketenangan berirama….
Gelegar, berbunyilah…. Lagi…..
Tak peduli kau berada dimana….
Berbunyilah lagi ….
Larutkanlah kami dalam sunyi ….
Senyapkan lah getar rasa takut ini ….
Walau sekali …

Sore itu, Nampak mega-mega di atas langit kuning yang di lukis oleh lembayung senja sore hari, sang surya bersembunyi di antara himpunan mega-mega itu, menyembunyikan guratan cahaya nya yang hendak tenggelam sebentar lagi.   Angin berhembus terus menggoyangkan dedaunan yang rimbun pada indukku, menebas daun-daunnya yang rindang, dan membuat aku dan saudara-saudaraku terlepas dari dahan ibuku.
Seperti Merpati, aku mengudara di atas sini, di angkasa raya, melihat betapa indahnya dunia ini, sesekali, terlihat bangsaku di bawah sana, yang rimbun hijau menandakan suburnya tanah Ibu Pertiwi ini. Sebuah pena akan di torehkan di atas selembar kertas sebuah putih tanpa garis, pertanda, kehidupan baru akan dimulai.

Gelegar Berbunyi……
               Angin pun berhenti, menghentikan hembusan nafasnya, perlahan aku mulai melihat suatu tanah yang menurutku cukup rindang, ditandai dengan tumbuhnya bangsaku. Tak jauh dari sana, aku melihat sebuah bangunan kecil yang dibuat dengan begitu sederhana, sangat sederhana, bahkan hamper menyerupai sebuah gubuk. Rumah manusia itu berada di tengah-tengah pesawahan, di antaranya terhampar luas lautan sawah, yang mana padi-padinya telah menguning dan siap dipanen oleh para manusia.
            Aku pun mulai turun, mulai menjejaki tanah itu, aku terjatuh di atas tanah, tepat di hadapan seorang manusia. Dengan penutup kepala yang terbuat dari anyaman bambunya itu, ia tampak menggarap sesuatu, ia berjongkok, kemudian melirikku. Ia tersenyum padaku, menyambut jatuhnya aku dari atas langit, seperti menyambut kedatangan sebuah benih pohon berdaun emas. 

Gelegar
Langkah perlahan namun pastinya itu, mendekat padaku, kemudian di angkatnya tubuh ini oleh genggaman jari-jemari nya itu. Di bopongnya aku ke suatu tempat, aku tak dapat melihat apa-apa kala itu, semuanya gelap gulita dalam genggaman tangan seorang manusia. Hingga akhirnya, secercah cahaya mulai terbuka lebar, perlahan aku mulai banyak sekali bangsaku di tanah itu, mereka tumbuh dengan daun-daunnya yang rindang. Mereka menggetarkan daun-daun mereka yang amat rindang, pertanda bahwa mereka teramat senang dengan keberadaanku, mereka menyambutku dengan suka cita.
            Jari-jemari itu, mulai melepaskan tubuhku ini, menjatuhkanku di atas tanah coklat yang terlihat sangat subur itu. Iapun mulai menggali lubang untuk petualangan baruku ini, secangkok demi secangkok terciptalah lubang untukku tumbuh dan mengembang menjadi tegakan suatu pohon. Akhirnya aku pun di kubur dalam ruang itu, gelap gulita, hanya ada segelintir binatang tanah yang datang menghampiri, tapi inilah  petualangan ku, lembar pertama yang baru saja aku tulis.

Gelegar, aku berandai…..    
Saat ini, di atas tanah ini aku terdiam dalam lamunan, meratapi keadaan saudara saudaraku kini, meratapi nasib yang telah terjadi kemarin dan akan terjadi pada hari esok, atau saat ini juga. Nasib yang di buat oleh Tuhan melalui makhluk makhluk biadab itu, satu satunya makhluk yang memiliki nafsu dan akal di dunia ini. Makhluk yang di sebut manusia, makhluk yang di ciptakan dengan otak, yang mana di gunakan oleh mereka untuk merauk dan merusak kami, otak yang di gunakan oleh mereka untuk menghancurkan bumi ini.
            Manusia, anak Adam dan Hawa, bukankah seharusnya mereka itu menjadi seorang khalifah di dunia ini? Seseorang yang memimpin alam semesta ini dengan menjaga dan melindungi alam semesta ini? Bukankah seharusnya seperti itu? Begitu juga yang di sampaikan Muhammad dan kitabnya bukan? Makhluk yang di sebut manusia itu adalah khalifah di bumi ini.
            Tetapi mengapa mereka menggunakan otak mereka untuk berfikir menghancurkan kami? Bangsa ku? Kenapa? Kenapa mereka menggunakan kedua tangan mereka untuk merauk kami di atas tanah ini? Kenapa mereka menggunakan akalnya untuk hal yang akan merusak diri mereka sendiri? Tidak kah mereka sedikit berfikir dampak dari perbuatan mereka yang jahanam itu?
            Andai saja aku punya mata seperti mereka mereka itu, mungkin sekarang tatapan ku sudah memelototi mereka mereka yang telah merauk bangsaku di atas tanah ini. Kemudian aku mengeluarkan tetesan air karena merasa tidak rela di perlakukan  se bodoh ini. Andai saja aku punya kedua tangan  mungkin sudah ku hempaskan tubuh mereka itu dan kujauhkan mereka dari kami, bangsaku ini. Namun, inilah takdir, aku hidup di tanah ini sebagai seonggok pohon Akasia, hanya sebatang pohon di antara pohon-pohon yang tersebar di penjuru negeri ini, semua itu hanya angan-angan semu belaka.

Gelegar, kemanakah engkau ?
Pagi ini, semilir angin membangunkanku dari tidur, di susul dengan hinggapnya Si Merpati di belahan dahanku, ku gesekkan rantingku kepada saudaraku Asam.
“Asam, bangunlah ! hari sudah pagi, saat nya menghirup udara pagi hari”
“Aku tak ingin bangun Akasia, aku sama sekali tak ingin bangun pagi ini, aku takut…aku takut mereka kembali dengan membawa alat besi bergiginya itu, lalu mulai menggergaji batang tubuhku ini Akasia, kenapa mereka tidak membiarkan aku mati sesuai dengan helaian daun terakhirku? Mereka itu memang makhluk terkutuk!”
“Manusia itu memang makhluk tidak tahu diri, mereka itu tak tahu bagaimana caranya bertrimakasih, tanpa kita, mereka itu tidak akan hidup dan beranak pinak di dunia ini, bahkan Adam dan Hawa pun begitu merawat bangsa kita dulu, tapi apa sekarang? Mereka dengan semena-mena menghancurkan kita seperti ini, dasar makhluk menjijikan.” Sumpah serapah si Randu terus terngiang di benakku setiap harinya.
“Mungkin mereka itu hanya belum sadar saudaraku, mungkin mereka akan sadar suatu saat nanti, dengan di tebangnya kita, mungkin akan menjadi suatu pelajaran bagi mereka di kemudian hari.”
“Kemudian hari katamu? Saat lautan sudah kehabisan air maksudmu? Begitukah? Atau saat kita sudah menjadi kayu bakar penyala tungku? Begitu maksudmu?” Tanya si Ulin bertubi-tubi .
“Itu hanya mungkin Akasia, MUNGKIN, mereka itu tidak akan pernah sadar, bahkan hari demi hari mereka bertambah bringas dan liar dalam menebang bangsa kita, coba kau lihat, dari puluhan pohon yang ada di atas tanah ini, sekarang hanya tinggal kita saja, hanya tinggal lima batang saja, kapan mereka akan sadar?”
            Ucapan si Jati memang sangatlah benar, entah kapan manusia-manusia itu akan sadar akan keberadaan kami, mungkin mereka tidak akan pernah sadar betapa pentingnya kami di ciptakan di dunia ini. Bahkan, hari demi hari, jumlah kita semakin berkurang saja, keberadaan kita terus menerus merosot tajam di dunia ini.
Gelegar, apakah itu benar ?
Sempat ku dengar kabar dari si Merpati, kabar yang sama sekali tidak ingin ku dengar dari nya, saudara-saudara kami di hutan telah dirauk oleh para manusia. Mereka semua telah menjadi meja meja hias, bahkan di antara mereka semua ada yang di jadikan kayu penyala tungku api. Mereka menjerit tangis ketika mereka di gergaji oleh manusia-manusia itu, mereka tak rela di perlakukan dengan keji seperti itu, dir auk dengan alat bergigi besi mereka.
            Atau saat mereka membakar hutan saat itu, membuat saudara kami menjerit terbakar dalam lautan api, mereka menghanguskan saudara kami di tanah kelahiran mereka sendiri. Sungguh memilukan ulah para manusia itu. Jeritan jeritan mereka sampai terdengar oleh kami di sini, kami tak dapat berbuat apa-apa saat itu, kami hanyalah sebuah pohon yang di ikat melalui akar di atas tanah. Andai aku punya kaki aku akan berlari menuju mereka sambil membawa air di kedua telapak tanganku, dan ku hempaskan air itu, berharap api akan padam karenanya.
Mereka memang sangat picik, berbuat sekenanya hanya mengikuti nafsu mereka yang menggebu, mengikuti keserakahan dan ketamakan bisikan setan. Mereka hanya memikirkan segelintir uang dan kantung celana mereka, tanpa berfikir apa sebenarnya dampak dari perbuatan itu sendiri. Serakah, tamak, picik, jahanam, biadab, itulah sekarang yang ada di benakku tentang manusia.
            Tapi tak mengapa, semua itu memang karena manusia, ulah mereka sendiri, mereka yang telah berbuat, maka mereka sendirilah yang akan merasakan dampak dari perbuatan mereka sendiri. Mereka yang akan terkena batunya akibat perbuatan mereka sendiri.
Gelegar, tolonglah kami……
            Tak lama kemudian para manusia itu datang di atas tanah kami, alat besi bergigi yang di bawa oleh tangan mereka menggugurkan daun si Asam kala itu. Ia terlihat amat ketakutan, ia mulai gelisah, dan mulai menjerit.
“Ah tidak, mereka datang, mereka datang, tamatlah aku, tamatlah aku, setelah ini pasti giliranku”
Si Asam berteriak-teriak sudah seperti kehilangan pikirannya, ia sedari tadi terlihat paling ketakutan di antara kami, lima batang pohon yang ada.
            Segerombol manusia itu berdiri di hadapan kami semua, helm berwarna kuning mereka, dipakainya di atas kepala mereka, lengkap dengan alat bergigi besi yang pernah di gunakan mereka merobohkan saudara kami, dan sekarang alat itu mereka gunakan untuk merobohkan kami sebentar lagi.
“Yang itu dulu saja, kayunya terlihat sudah keropos, nam” ucap salah seorang dari mereka.
Kemudian secara cepat, mereka menghampiri si Ulin, rupanya sekarang Ulin lah yang akan di tebang oleh para manusia itu, namun kulihat tak ada rasa takut di wajah si Ulin, ia tampak tenang menghadapi kematiannya saat ini.
“Kalian beruntung kawan, hiduplah lebih lama, dan sadarkan para manusia-manusia ini, aku yakin, manusia itu akan sadar suatu saat nanti, setelah mendapat suatu titik terang dari apa yang terjadu dulu dan kini, aku beruntung bisa mengenal kalian, selamat tinggal kawan, aku menyayangi kalian semua” ucap si Ulin dengan tenang.
Gelegar, kami ketakutan……...       
Suara yang kami semua takutkan terdengar di tanah kami, suara dari alat bergigi besi itu, kemudian getaran dari alat besi tersebut perlahan demi perlahan mulai menjatuhkan Si Ulin. Kami semua bergetar kala itu, daunku pun jatuh ditakuti oleh getaran yang di hasilkan si gigi besi, tak ubahnya kucing yang takut dengan gonggongan anjing. Sungguh keadaan yang memilukan, kami semua terpaku menyaksikan saudara kami mati di hadapan kami.
            Si Ulin pun roboh tersungkur ke atas tanah, aku tak dapat berbuat apa-apa lagi, ia telah menjadi se onggok kayu yang sudah tak bernyawa lagi. Sahabatku Asam berteriak-teriak disini, ia meneriakkan kekesalannya melihat Si Ulin terkapar di atas tanah. Empat, sekarang jumlah kami tinggal empat batang saja, sudah menjadi pemandangan yang gersang seperti ini, memupuk tanah dengan empat batang pohon yang tegak.
“Lihatlah si Ulin, lihatlah ia Akasia, lihatlah Jati, tengok itu Randu, aku tak kuasa dengan keadaan seperti ini, aku sungguh tak kuasa meratapi keadaan saat ini, tapi mengapa ia masih bisa tenang menghadapi kematiannya itu saudaraku? Katakan mengapa ia seperti itu?” Asam berteriak pada kami semua.
“Ia yakin pada keteguhannya kawan, ia sangat yakin, suatu saat nanti para anak Adam beserta Hawa akan menyadari semua ini, suatu saat mereka akan menggenggam benih bangsa kita dan mulai menancapkannya di atas tanah, mereka akan menjaga dan melestarikan kita semua, itu yang ada di benaknya saat itu Asam, ia percaya, sangat percaya”
“Kepercayaannya sangatlah salah, mereka itu tidak akan sadar, ia mempercayai hal yang tidak mungkin, jikalah mereka itu akan sadar, pastilah mereka itu akan menyadari pentingnya keberadaan kita, walaupun hanya secuil saja, tapi mana? Lihatlah kenyataannya, sungguh berbeda jauh dengan apa yang di percayainya, dia itu terlalu naïf.” Si Randu seraya memandangi si Ulin yang sudah menjadi kayu.
            Benar, sekali lagi salah seorang sahabatku berkata benar, Si Ulin memang naïf, terlalu naïf untuk mempercayai para manusia itu, mempercayakan alam ini kepada manusia. Suatu kepercayaan yang takkan pernah di genggam oleh manusia, suatu hal yang sangatlah mustahil, bagai menggenggam api, ia hanya akan merasakan panasnya, tapi tak akan mendapat apa-apa, hanya akan mendapat sebuah luka yang membakar kita sendiri.
Gelegar, aku merindukanmu……
Aku rindu, aku sangatlah rindu, kepada sosok manusia yang penuh dengan kasih sayang, bagaimanapun juga, aku takkan setua ini, akar gantungku takkan sepanjang ini, sampai menggantung dan dapat di buat ayunan di antaranya. Akarku takkan sepanjang ini, sampai dapat menerobos lapisan tanah hingga dalam, daunku pun takkan selebat ini, sampai dapat mengeluarkan nafas oksigen 48 kg/ hari.
Tanpa sosok manusia itu, aku merindukan hal itu dari sosok manusia, aku ingat saat tubuhku dilanda kekeringan yang sangat menusuk-nusuk batang tubuhku, ia datang dengan airnya yang menyejukkan tubuhku ini. Aku ingat, aku ingat saat itu, saat aku membutuhkan sedikit asumsi makanan, kemudian ia datang membawakanku beberapa genggaman butiran putih dan di taburkannya butiran putih itu di sekelilingku, dan akhirnya kuserap oleh akarku ini.      
Aku rindu semua itu, aku rindu sosoknya, aku sangat ingin menemukannya, manusia, manusia, manusia yang takkan pernah lahir lagi di dunia ini. Sosok yang menyiramiku tatkala aku dilanda rasa kering yang sangat  berkepanjangan, aku rindu sosok yang menaburi ku tatkala aku di landa rasa kelaparan yang mengobok-ngobok batangku. Kini, entah dimana ia berada, keberadaanya entah ada dimana, aku tak dapat menjawab semua itu, sudah puluhan tahun aku menunggu, tapi ia tak pernah kunjung datang. Apakah ia sudah ditelan bumi? Apakah ia sudah mengalami apa yang namanya mati? Apakah hidup bangsa manusia tak sepanjang hidup bangsa kami?
Gelegar, kemanakah engkau ?
Penantianku rasanya akan sia-sia, semua sepertinya hanya angan-angan belaka, ia takkan pernah kunjung datang lagi untuk sekedar menyiramiku, pasalnya, selama aku menantikan kehadirannya, sudah ku lihat banyak batang yang di tancapkan di atas tanah ini, hingga akhirnya mereka tumbuh. Bahkan tak sedikit dari mereka yang telah mendahuluiku, di tanah ini, memang akulah yang telah lama hidup di antara batang lainnya, usia ku di dunia ini sudah hampir mencapai satu abad lamanya. Tapi kini, mungkin kematianku sudah mendekatiku, bahkan sekarang ini, aku sudah sejengkal diambang pintu kematian. Hari yang telah aku lalui untuk menunggu sosoknya itu, kini akan habis, dan berakhir sudah harapanku untuk melihat sosok yang penuh kasih sayang itu. Semua yang aku nantikan akan sia-sia saja.
Keesokannya, aku sama sekali tak ingin bangun, aku tak ingin menyaksikan salah satu dari kami di gergaji oleh alat bergigi milik manusia itu, aku tak ingin melihat semua itu lagi. Aku tak ingin melihat para manusia itu datang dan mulai mengeruk kami di atas tanah ini. Namun, sepertinya hal itu hanya sebuah harapan belaka yang takkan pernah terwujud. Para  anak Adam itu telah berdiri di hadapan kami semua, mereka semua sedang memegang alat mereka yang tak ingin kulihat, alat bergigi besi yang di pakai oleh mereka untuk merobohkan si Ulin kemarin.
“Kalian siap? Cepat tebang pohon itu, tinggal empat pohon saja kan? Tebang yang dua itu! Jati itu bagus untuk di jadikan property ruang tamu.” ucap manusia yang memakai helm berwarna merah itu.
            Rupanya, yang mereka hendak tebang adalah si Jati dan si Randu, mereka telah bersiap-siap untuk menebang si Pohon Jati.
“TIDAAAAK…… manusia jahanam! Keparat kalian semua, kalian makhluk berotak menjijikan! Kalian ini hanya memikirkan ketamakkan dan keserakahan kalian saja! Kalian ingin menjadikanku kursi untuk kalian duduki? Begitu? Aku bersumpah, jika kalian menjadikanku kursi, suatu saat ketika kalian menduduki ku, akan ku hancurkan tubuhku sendiri, hingga membuat kalian jatuh terduduk di tanah! TIDAKKK….. JANGANN……” sumpah serapah tak henti-hentinya keluar dari mulut si Jati kala ia di tebang oleh manusia itu.
Dan akhirnya, braaak ~, si Jatipun sudah menjadi se batang kayu yang tak bernyawa lagi, kini batangnya sedang di potong-potong menjadi beberapa bagian dan akhirnya di angkut ke dalam bak oleh para manusia itu menggunakan benda beroda berwarna kuning.
“Kalian manusia! Kalian akan sadar, saat daun terakhir jatuh di muka bumi ini, saat itu juga kalian akan musnah di bumi ini, takkan ada lagi manusia, bahkan air pun takkan tersisa satu tetespun di Hamparan Samudra, takkan ada lagi udara yang dapat kalian hirup nanti! Takkan ada lagi semilir angin mengiringi langkah kalian! Yang ada, hanya tangisan, dan jeritan kematian, layaknya kami sekarang ini, yang menjerit-jerit kesakitan! CAMKAN itu MANUSIA!” ucap si Randu menyumpahi manusia, sebelum akhirnya ia jatuh tersungkur.
            Braaakk~ tubuh si Randu yang di penuhi duri itu pun akhirnya jatuh ke tanah, suasana pilu menyelimuti tanah kami ini. Sekarang ini, hanya aku dan Asam yang tersisa, aku yakin besok adalah hari kematian kami berdua. Hari dimana kami akan menjadi sebatang kayu yang tak berguna dan hendak di jadikan meja, kursi bahkan kayu bakar.
“Akasia Kau mendengar yang di ucapkan para manusia itu? Mereka hendak menjadi kan saudara kita property ruang tambu mereka. Sungguh ironis sekali kehidupan, di duduki oleh makhluk itu? Makhluk yang hanya bisa mengikuti nafsunya itu? Aku tak rela, sangat tak rela “
“Andai manusia-manusia itu seperti sosoknya, pasti kita akan tetap berdiri kokoh disini, kita akan menikmati masa rapuhnya batang pohon kita kawan”
“Maksudmu? Seperti sosok yang selalu kau rindukan itu? Yang menanamu di tanah ini? Orang yang terus menyiiramimu saat batangmu masih secuil?”
“Kau benar, andai saja manusia-manusia itu seperti dia.”
“Di dunia ini, sudah tidak ada lagi sosok yang seperti itu Akasia, manusia sekarang itu penuh ambisi untuk sekedar memuaskan hawa nafsu mereka.”
Gelegar, berbunyilah lagi…….
Hari pun berlalu dengan sangat cepat, hari ini adalah hari dimana aku dan Asam akan di tebang oleh para manusia itu. Asam sangatlah terlihat ketakutan, sedari tadi aku lihat daunnya terus berjatuhan ke atas tanah, saking takutnya ia.
“tenanglah kawan, kita akan menghadapinya bersama, kita haruslah tenang seperti si Ulin.”
“Itu adalah hal mustahil buatku, hal yang tidak akan pernah terjadi…” ucapnya gemetaran.
            Suara dari alat besi bergigi itu pun sudah terdengar di telingaku, Asampun gemetaran ketakutan karenanya. Aku sedari tadi menghela nafas panjang, menghirup udara sebisaku, karena bisa jadi ini adalah udara terakhir yang ku hirup.
            Aku ingin mendengarnya lagi, di saat terakhir ku ini, aku ingin larut kedalam kesunyian yang di buat oleh nya,  aku ingin tenang saat kematian sudah ada di hadapanku sekarang. Namun, rasanya sudah sangat jauh ia pergi, ia takkan pernah kembali dan membunyikannya lagi untukku, dan untuk kami.
            Manusia-manusia itu datang di hadapanku sekarang, lengkap dengan senjata yang akan mengeksekusiku saat ini juga. Alat bergigi besi yang paling di takutkan oleh bangsa kami itu, yang mampu meruntuhkan bangsaku hanya dalam hitungan detik. 

Gelegar, sampaikanlah…………
            Aku berdoa, semoga ini tak sesakit yang kukira, semoga kematian adalah hal yang paling mudah untukku. Di penghujung lembaran hidupku, aku hanya mengingat kepercayaan si Ulin kepada para manusia itu. Semoga saja kepercayaan itu benar adanya, tak percaya pada sesuatu yang salah.
            Gelegar, jika aku tidak dapat mendengarmu lagi, biarkanlah kamu mendengarkan ocehan sebatang pohon Akasia ini. Tak peduli engkau dimana , semoga semilir angin menyampaikan pesanku padamu. Bahwasanya, aku mempercayai manusia berkatnya, dan berkat si Ulin juga.
            Semoga kelak, anak Adam yang hidup di bumi Pertiwi ini dapat menyeimbangkan kembali kehidupan, layaknya 150 tahun lalu. Suatu saat  nanti, mereka akan kembali menanamkan sebuah bibit dan menancapkannya di tanah ini. Mungkin, dengan begitu, semua penderitaan kami akan terbalas, walaupun hanya secuil. Terlambat tak apa, asal jangan tidak sama sekali.
Sampaikanlah kepada anak Adam, kelak bencana besar akan datang, bumi ini terus merintih, menjerit tak kuasa menahan beban yang di tanamnya. Perbaikilah, seimbangkanlah, ekosistem di Bumi Pertiwi ini, aku percaya.
Manusia itu mulai menggesekkan benda mengerikan itu, tubuhku terasa hampa, menahan sakit, mungkin. Kematian telah di ambang pintu sekarang. Samar-samar ku dengar Gelegaran yang lama sudah ku rindukan, mungkin ia hendak menghanyutkanku dalam kesunyian, mengantarkanku pada kematian dengan tenang.
Gelap, saat itu ku rasakan, entah apa yang terjadi setelah itu, aku tak ingat…

Terimakasih, Gelegar……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar