Kamis, 10 Juli 2014

PENGABDIANKU SEBAGAI RIMBAWAN


PENGABDIANKU SEBAGAI RIMBAWAN

Saat mentari yang menyelinap dibalik gunung sedikit demi sedikit mulai bergerak vertikal ke atas untuk mengepakkan kemilau sinarnya yang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan proses kehidupan, kemudian angin fajar yang mulai berlari kesana kemari mempertontonkan keelokan setiap lekuk gerakan yang tercermin disetiap pepohonan dan rerumputan yang mengikuti iramanya, lalu suara sang ayam jantan yang mulai terdengar dengan nada yang cukup membisingkan telingaku namun tidak sampai memecah organ korti di saluran dalam telingaku … Kukuruyuik …. Kukuruyuk … Ohk … Ohk …. Ohk (mirip suara batuk manusia).

Gusti, remaja asal Bali yang memiliki tubuh tinggi atletis, karena saat duduk dibangku Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) dia termasuk anak yang rajin berolahraga. Dia berusaha menghancurkan bayangan indah yang sedang aku hayati di alam imajinatif yang wujudnya pastilah abstrak. (Dalam Pikirku) …. Sebentar lagi aku akan sampai di Puncak Gunung itu dan bendera ini akan tertanjab kuat di tanah puncak yang paling tinggi diantara Tanah lain di Pulau Jawa ini …. MAHAMERU  I’M COMING. “Arya … bangun … wey heudang …. Dah pagi wey …  buru mandi ….”
Aku pun terbangun dengan wajah penuh kebingungan, namun aku tungkupkan kembali kepalaku diatas bantal tempat ranjangku berada. Sipratan air menghujat diantara pelipis kepala sampai terasa ke bagian ubun – ubun. Aku berteriak keras “Gandeng sia Gusti”. Aku pun tetap terlelap dalam tidurku, melanjutkan hanyutan mimpi yang sempat putus karena ulah si teman jailku Gusti.

Alangkah terkejutnya diriku ketika jam dinding disamping lemariku menunjukkan pukul 08.37 WITA. Aku pun langsung bergegas seperti orang ambigu tingkat tinggi yang tidak tahu arah, sedang dalam pikiranku terfokus kesatu subjek yaitu Pak Darwoto.
Segera aku mengambil handuk didekat pintu kamar mandi. Kuusapkan kearah wajahku yang masih kumal dialiri leleran keringat bercampur kotoran yang mengendap dikelopak mataku. Pakaian seragam langsung kuraih dibelakang pintu dan langsung kukenakan. Perut keroncong yang berbunyi ringan tak aku pedulikan. Terngiang lagi didalam pikiranku nama bosku Pak Darwoto. Sekitar 10 menit perjalanan untuk dapat sampai ditempat kerjaku di KPH Limboto Gorontalo yang dapat kutempuh menggunakan angkutan desa yamg mondar mandir lewat didepan rumah kontrakanku. Walaupun aku terlahir didaerah kota besar yang jauh dari tempatku bekerja … Jakarta Raya… dan semenjak kecil hingga usiaku menginjak 14 tahun aku hidup bergelimang harta bersama ayah dan ibuku tercinta. Namun hal itu tidak membuatku akan menjadi anak yang manja yang hidup hanya menggantungkan diri kepada harta milik Orang tuaku. Perlu diketahui ayahku dulu adalah seorang Direktur ternama sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pertanian di Jakarta, sedangkan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga seperti orang pada umumnya, dia tidak bekerja melainkan merawat aku dan adikku tercinta di rumah. Sebetulnya aku bercita- cita untuk menjadi Arsitek kelak jika dewasa karena aku jago dibidang Seni rupa dan sejenisnya, namun karena pesan dari almarhum kakekku yang menyuruhku untuk meneruskan riwayat kesuksesannya yaitu menjadi penyuluh kehutanan, akhirnya aku harus mengalah dan mau menuruti pesannya yaitu sekolah di SKMA. Arsitek menjadi pilihan yang ku nomorduakan  setelah tamat dari SKMA saat itu karena ku ingin langsung terjun kedunia kerja dilingkup kehutanan.

Namun keadaan hari ini membuatku berpikir ulang bahwa hidup memang bagaikan roda yang berputar dan musim yang berganti sepanjang tahun. Saat aku sekarang menjadi tulang punggung keluarga bagi ibu dan 1 orang adik perempuanku yang masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Ayahku sudah 2 tahun meninggalkanku untuk beristirahat di alam sana, bertemu dengan Sang Maha Kuasa lantaran tragedi kecelakaan yang menimpanya. Seluruh aset kekayaan telah habis digunakan untuk berbagai kebutuhan. Sekarang semangatku adalah satu, yaitu bekerja untuk mengabdi pada  kehutanan  juga menjadi tulang punggung keluarga. Tak lupa menabung untuk masa depanku kelak pastinya.

Aku sadar hari ini kutelat datang ke tempat kerja, mungkin penyebabnya karena aku begadang semalam menyaksikan pertandingan sepak bola tim favoritku. Tanpa panjang lebar aku segera menghampiri pimpinanku, Pak Darwoto di ruangan sebelah ruang kerjaku.
“Maaf sekali pak, hari ini saya telat datang ke kantor ….” Kataku.
“Kenapa kamu bisa telat ceprut ….” Sahut Pak Darwoto.
Dengan terbata- bata aku menjawab “Taadi saaya baangun ….”
Belum selesai berbicara Pak Darwoto langsung menyuruhku untuk mengerjakan tugas yang ia berikan kemarin.
“ Untuk kali ini bapak maafkan ….” Ucap pak darwoto dengan tegas.
“Terima kasih pak, saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi.” Balasku.
“Dah sana segera bekerja …” kata Pak Darwoto.
“Siap pak ….” Sahut suara lantangku.

            Untunglah Pak darwoto mau memaafkan kesalahanku. Setelah itu aku langsung mengganti seragamku dengan kaos dan celana PDL, kuambil cangkul digudang dan akupun bergegas menuju ke areal hutan didekat KPH Limboto. Dengan semangat yang membara baik jiwa maupun raga aku berusaha untuk menerobos panasnya terik Sang raja siang yang mulai mengayun dititik tengah peraduannya. Sebelum melanjutkan pekerjaanku yang kemarin, terlebih dahulu aku lihat lay out persemaian yang akan aku bersama timku buat. Aku, Febrian, dan Galuh ditugasi oleh Pak Darwoto untuk mengolah areal hutan di petak  4 untuk dijadikan sebuah persemaian. Ditempat tersebut  akan dikembangbiakan berbagai macam bibit tanaman kehutanan seperti Jati, Mangium, Eukaliptus, Mahoni, dan lain- lain. Kami pun mulai bekerja dengan membangun sarana dan prasarana persemaian yaitu meliputi persiapan lapangan yang terdiri dari pemasangan patok, yang dibuat dengan tinggi kurang lebih 150 cm, diameter kurang lebih 10- 15 cm. Patok dibuat dari kayu yang tahan rayap dan ujungnya diberi cat hitam serta diberi nomor. Patok ditanam sedalam 50 cm. Pemasangan patok ini bertujuan untuk membatasi lokasi persemaian dengan lokasi luarnya. Apabila dilokasi persemaian ada gangguan penggembalaan ternak maupun ada gangguan hewan lainnya maka sekeliling areal persemaian perlu dipagar misalnya dengan kawat berduri. Selanjutnya adalah pembersihan lapangan yaitu kegiatan membersihkan areal dari rumput- rumputan, semak belukar, dan tunggak- tunggak pohon. Bila pada areal yang akan dijadikan tempat untuk membuat persemaian masih berdiri pohon- pohon, maka kegiatan ini diawali dengan menebang pohon- pohon, mengumpulkan batang dan cabang yang besar, menggali tunggak dan mengelurkannya dari areal persemaian. Hal ini perlu dilakukan karena sisa- sisa kayu dan daun- daunan merupakan sumber hama dan penyakit yang dapat membahayakan bagi bibit yang akan diproduksi. Dan pembersihan pun dapat dilakukan secara mekanis ataupun manual. Lalu setelah itu timku melakukan perataan dan penataan tanah. Perataan dilakukan hingga kemiringan tanah 1- 5 % agar air tidak menggenang dan tidak terjadi erosi yang membahayakan. Penataan tanah disesuaikan dengan rencana tata letak persemaian. Pada kegiatan ini juga perlu dibuat jalan persemaian agar kendaraan yang m,engangkut bahan dan peralatan persemaian serta bibit yang dihasilkan dari persemaian dapat dengan mudah keluar masuk areal persemaian. Langkah selanjutnya timku melaksanakan pengolahan dan pengerasan tanah. Pengolahan tanah dilakukan setelah kegiatan perataan. Karena persemaian yang timku bangun tergolong permanen, maka areal yang akan digunakan untuk produksi bibit dan bangunan perlu diperkeras. Pengerasan dilakukan dengan menggunakan batu dengan ketebalan 8- 10 cm untuk areal produksi bibit serta 3- 5 cm untuk bangunan. Setelah tahapan persiapan lapangan selesai maka pembangunan sarana produksi pokok pun dibuat yaitu meliputi Bedeng tabur, Bedeng Sapih, Wadah Bibit, Naungan dan Kandang Ternak. Selain itu juga dibangun sarana dan prasarana penunjang yaitu Selokan, Saluran Irigasi, Jalan Angkutan, Kantor, Operation Room, Tempat Parkir, Laboratorium, dan Gudang.

7 Hari Kemudian …
Akhirnya aku dan timku telah selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasanku Pak Darwoto untuk membangun Persemaian di areal hutan petak 4. Setelah kurang lebih selama 7 hari menyelesaikan proyek itu, Pak Darwoto pun melakukan survey lapangan untuk mengevaluasi lokasi persemaian yang telah timku buat. Namun apa yang terjadi, ternyata Persemaian yang timku buat tidak sesuai kriteria yang diinginkan oleh Pak Darwoto karena beberapa hal diantaranya seperti pemilihan lokasi, peletakkan media tabur dan media sapih yang kurang strategis karena agak jauh dari intensitas penyinaran matahari, lalu kondisi tanah yang kurang mendukung karena kegagalan yang timku buat pada proses pengerasan tanah, dan belum terdapatnya harmonisasi antara unsur tanaman kehutanan, semusim, maupun ternak yang dapat menciptakan realisasi Agroforestri. Untungnya Pak Darwoto masih berbaik hati kepada timku karena ia memberi waktu kurang lebih selama 5 hari lagi agar timku dapat memperbaiki kesalahan pada pembuatan lokasi persemaian tersebut. Walaupun aku cukup kecewa dengan evaluasi yang dilakukan oleh Pak Darwoto yang menganggap aku dan timku gagal membuat lokasi persemaian, namun aku tetap menerima hasilnya karena aku ingin kedepan lebih baik lagi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan. Segera aku menyelesaikan kembali tugas yang diberikan Pak Darwoto, aku ingin kali ini berhasil, aku harus mampu membuktikan bahwa aku bisa mengerjakan pekerjaan ini dengan baik dan tidak mengecewakan pastinya. Setelah berpikir beberapa menit, Aku, Febrian, dan Galuh pun sepakat untuk membagi pola kerja menjadi 3 bagian agar dapat berjalan efektif dan efisien. Aku bagian memperbaiki lokasi peletakkan media tabur dan media sapih agar strategis, sehingga dekat dengan intensitas cahaya matahari. Kemudian Febrian memperbaiki pola pengerasan tanah yang akan digunakan dalam lokasi persemaian, dan Galuh menyeleksi tanaman yang tepat untuk digunakan dalam Pembuatan Agroforestri. Walaupun kami mengerjakannya secara individu tetapi kami tetap bekerja sama dalam hal perbaikan lokasi persemaian ini, sehingga nantinya kami dapat memperbaiki areal persemaian yang telah kami buat sebelumnya.

Tak terasa waktu berputar begitu cepat, saat aku melihat jam dinding di tempat kerjaku yang telah menunjukkan Pukul 17.12 WITA. Aku pun langsung bergegas menuju kamar mandi.…. Gebyur …byur …. byur …. Terdengar bunyi siraman air yang membasahi tubuhku. Kurang lebih 5 menit menghabiskan waktu untuk mandi, segera aku mengambil tas yang aku letakkan di atas meja kerja dan langsung menuju ke depan gerbang untuk menunggu Angkutan Desa untuk pulang menuju ke rumah kontrakanku di daerah Limbangwatan. Setelah menunggu agak lama, akhirnya aku mendapatkan Angkutan Desa untuk aku naiki. Selama di kendaraan aku memikirkan mengenai Persemaian yang aku dan timku buat, apakah hasilnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Pak Darwoto ataukah tidak memenuhi. Walaupun hasratku berfikir apabila persemaian yang telah timku perbaiki telah sesuai dengan syarat dan kriteria yang ditentukan bahkan timku telah membuat suatu inovasi dalam perbaikan persemaian tersebut. Tetapi apakah Pak Darwoto akan berfikir sama dengan apa yang timku fikirkan, tak tahulah, yang pasti apabila Pak Darwoto menilai secara objektif pasti persemaian yang timku buat telah memenuhi kriteria bahkan lebih dari yang diharapkan. Namun sebaliknya apabila Pak Darwoto subjektif maka akan memutar balik fakta dan menganggap Perbaikan tersebut gagal. Akhirnya sampailah aku didepan rumah kontrakanku, aku langsung mengetuk pintu memanggil Kadek teman satu kontrakanku.

“Tok … tok … tok …tok … Permisi dek buka pintunya ! sedang apa kau didalam ?”. Suaraku.
“Oh yo bentar bro, ku lagi nyetrika pakaian, bentar … “. Jawab Kadek.
“Buru atuh, lila teing sia.” Jawabku.
“Pret…pret (suara pintu terbuka).

            Segera aku masuk ke rumah, melepas seragam, dan mengganti pakaianku dengan pakaian bebas. Kemudian aku langsung menuju ke ruang tamu untuk menikmati hiburan sejenak dengan menonton televisi. Tak terasa adzan Isya berkumandang, lalu aku langsung bergegas untuk melaksanakan Shalat. Dan setelah shalat Isya ku langsung menuju ke kursi kecil yang berada disudut kamarku. Tanpa disadari, kuterhenyak dalam lamunan memikirkan tentang kehidupanku di masa depan nantinya. Kuingin menjadi
seorang rimbawan sejati yang mampu menyelamatkan hutan dari kerusakan. Kumerasa prihatin terhadap permasalahan hutan di Indonesia dewasa ini. Kuberharap masa depan kualitas sumber daya hutan di Indonesia lebih baik, sehingga mampu benar- benar menyejahterakan kehidupan. Jam dinding menunjukkan pukul 21.00 WITA, rasa kantukpun hinggap menyergap diriku sekaligus membangunkanku dari lamunan yang telah membuat diriku terhenyak beberapa saat. Ku langsung menuju ranjang menengadahkan anggota tubuh dan akhirnya tertidur dalam suasana heningnya malam. Alarm pun membangunkanku dari tidur bersamaan dengan berkumandangnya suara adzan Subuh. Segera aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat Subuh di Mushola sebelah kontrakanku.

Hari ini mentari bersinar terang secerah suasana hatiku. Saat tiba di kantor kumerasa aneh lantaran tak ada satupun rekanku yang hadir, padahal jam dinding menunjukkan pukul 07.00 WITA. Kring … kring… kring … terdengar suara telepon kantor berbunyi dan langsung kujawab telepon tersebut.
“Halo selamat pagi, dengan siapa dan ada perlu apa ?”. Tanyaku.
“Saya dari Pihak Kepolisian, apakah benar ini dari Kantor KPH Limboto”.Sahutnya.
“Ya pak benar, memang ada apa pak”. Jawabku.
“Saya ingin berbicara dengan Bapak Arya Wiguna”. Balasnya.
“Ya saya sendiri pak”. Jawabku dengan rasa canggung.
“Anda harus datang selambat- lambatnya jam 9 siang ini di Polsek Limboto karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepada anda”. Katanya.
“Oh baik pak saya siap datang nanti, tapi jika boleh tahu ada masalah apa Pak”. Jawabku dengan nada sedikit penasaran.
“Anda dilaporkan terlibat dalam kasus Penjualan Kayu Gelondongan tanpa izin sehingga anda akan kami selidiki untuk proses lebih lanjut”. Jawabnya.
“Tapi saya tidak merasa terlibat dalam kasus itu Pak, dan saya tidak mengetahuinya sama sekali”. Balasku dengan rasa terkejut luar biasa.
“Tidak ada tapi- tapian, intinya anda ditunggu secepatnya di kantor Polsek Limboto”. Kata terakhirnya sebelum memutus pembicaraan.
Belum selesai meneruskan pembicaraan … Tut …Tut …Tut … Suara telepon terputus begitu saja. Aku merasa heran mengapa tiba- tiba aku mendapat telepon dari pihak kepolisian, padahal aku tidak terlibat dalam suatu kasus apalagi menyangkut paut dengan persoalan penjualan kayu gelondongan. Aku pun segera keluar dari dalam ruang kantor dan betapa terkejutnya aku ketika rekan kerjaku satu kantor datang dengan tiba- tiba sambil diiringi nyanyian selamat ulang tahun. Memang aku tidak sadar jika hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke- 20. Hal ini mungkin dikarenakan aktivitasku yang terlalu sibuk dalam menjalankan rutinitas kerjaku yang bisa dikatakan padat. Diusiaku yang ke- 20 tahun ini, banyak diantara rekan kerjaku yang memberiku ucapan selamat dan bingkisan kado yang berharga pastinya. Kejutan pun datang lagi dari Pak Darwoto yang secara tiba- tiba datang memberikan jabatan tangan mengucapkan selamat kepadaku dan sekaligus memberikan apresiasi kepada timku karena berhasil membangun dan memperbaiki areal persemaian yang ditugaskannya serta alangkahkah bahagianya aku ketika Pak Darwoto secara jelas memberikan Surat SK kepadaku perihal kenaikan pangkat atau golongan kerja yang awalnya II B menjadi II C sehingga otomatis peran kerjaku di KPH Limboto akan berubah dan besar gaji yang diterima pun akan bertambah. Tak terasa usiaku saat ini telah menginjak 20 tahun, sebuah usia yang menurutku sudah dewasa dan diusiaku tersebut aku telah mempunyai pekerjaan tetap di lingkup kehutanan. Aku berkeinginan untuk terus meningkatkan kinerjaku agar kualitasku semakin meningkat kearah yang lebih baik pastinya dalam mengabdi pada pekerjaanku.
Sebagai seorang rimbawan sejati aku telah dididik untuk menanamkan jiwa Korsa atau kebersamaan. Rasa Korsa tersebut terbentuk dan terpupuk karena aku selama 3 tahun lamanya mengenyam pendidikan di SKMA (Sekolah Kehutanan menengah Atas). Di sekolah tersebutlah aku dapat belajar dan mengenal berbagai hal yang berbeda dengan sekolah lain pada umumnya. Tidak hanya belajar materi pembelajaran, namun aku juga diajarkan pentingnya arti sebuah kedewasaan, kemandirian, dan komitmen yang pastinya sangat berguna bagi diriku karena manfaatnya telah aku rasakan sekarang. Di SKMA aku dididik untuk siap menjadi tenaga teknis lapangan yang handal dan professional dalam menekuni bidang keahlian kehutanan. Memang tidak pernah terfikir dan terbayang ketika usiaku kanak- kanak untuk menjadi seperti sekarang ini, namun aku mengerti Tuhan Yang Maha Kuasa lah yang menentukan semua ini karena takdir dan proses kehidupanlah yang dapat merubah keinginan seseorang dan aku menyadari setiap cita- cita yng kita inginkan saat masih kecil belum pasti akan tercapai secara konkret seperti apa yang diharapkan karena proses kehidupanlah yang dapat menentukan semuanya.

Setiap orang yang hidup pasti mempunyai target maupun tujuan hidup masing- masing yang ingin mereka wujudkan. Saat ini aku mengabdi penuh di lingkup kehutanan, permasalahan- permasalahan yang muncul di dunia kehutanan membuatku sadar bahwa betapa dibutuhkannya peranku untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut. Keserakahan manusia yang tidak bijak dalam memanfaatkan sumber daya hutan membuat kualitas hutan di Indonesia mengalami penurunan. Penebangan hutan secara liar, illegalloging, penangkapan satwa tanpa izin, kebakaran hutan, dan alih fungsi areal hutan merupakan serangkaian kasus yang menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan yang pastinya bersifat merugikan. Aku berharap diriku mampu menjadi subyek yang mampu memperbaiki semuanya kearah yang lebih baik, karena aku tahu betapa pentingnya fungsi hutan dalam menunjang keberlangsungan hidup umat manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar