PENGABDIANKU
SEBAGAI RIMBAWAN
Saat mentari yang
menyelinap dibalik gunung sedikit demi sedikit mulai bergerak vertikal ke atas
untuk mengepakkan kemilau sinarnya yang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan
proses kehidupan, kemudian angin fajar yang mulai berlari kesana kemari
mempertontonkan keelokan setiap lekuk gerakan yang tercermin disetiap pepohonan
dan rerumputan yang mengikuti iramanya, lalu suara sang ayam jantan yang mulai
terdengar dengan nada yang cukup membisingkan telingaku namun tidak sampai
memecah organ korti di saluran dalam telingaku … Kukuruyuik …. Kukuruyuk … Ohk
… Ohk …. Ohk (mirip suara batuk manusia).
Gusti, remaja asal Bali
yang memiliki tubuh tinggi atletis, karena saat duduk dibangku Sekolah
Kehutanan Menengah Atas (SKMA) dia termasuk anak yang rajin berolahraga. Dia
berusaha menghancurkan bayangan indah yang sedang aku hayati di alam imajinatif
yang wujudnya pastilah abstrak. (Dalam Pikirku) …. Sebentar lagi aku akan
sampai di Puncak Gunung itu dan bendera ini akan tertanjab kuat di tanah puncak
yang paling tinggi diantara Tanah lain di Pulau Jawa ini …. MAHAMERU I’M COMING. “Arya … bangun … wey heudang …. Dah pagi wey … buru mandi ….”
Aku pun terbangun dengan wajah
penuh kebingungan, namun aku tungkupkan kembali kepalaku diatas bantal tempat
ranjangku berada. Sipratan air menghujat diantara pelipis kepala sampai terasa
ke bagian ubun – ubun. Aku berteriak keras “Gandeng
sia Gusti”. Aku pun tetap terlelap dalam tidurku, melanjutkan hanyutan
mimpi yang sempat putus karena ulah si teman jailku Gusti.
Alangkah terkejutnya
diriku ketika jam dinding disamping lemariku menunjukkan pukul 08.37 WITA. Aku
pun langsung bergegas seperti orang ambigu tingkat tinggi yang tidak tahu arah,
sedang dalam pikiranku terfokus kesatu subjek yaitu Pak Darwoto.
Segera aku mengambil handuk didekat
pintu kamar mandi. Kuusapkan kearah wajahku yang masih kumal dialiri leleran keringat
bercampur kotoran yang mengendap dikelopak mataku. Pakaian seragam langsung
kuraih dibelakang pintu dan langsung kukenakan. Perut keroncong yang berbunyi
ringan tak aku pedulikan. Terngiang lagi didalam pikiranku nama bosku Pak
Darwoto. Sekitar 10 menit perjalanan untuk dapat sampai ditempat kerjaku di KPH
Limboto Gorontalo yang dapat kutempuh menggunakan angkutan desa yamg mondar
mandir lewat didepan rumah kontrakanku. Walaupun aku terlahir didaerah kota
besar yang jauh dari tempatku bekerja … Jakarta Raya… dan semenjak kecil hingga
usiaku menginjak 14 tahun aku hidup bergelimang harta bersama ayah dan ibuku
tercinta. Namun hal itu tidak membuatku akan menjadi anak yang manja yang hidup
hanya menggantungkan diri kepada harta milik Orang tuaku. Perlu diketahui
ayahku dulu adalah seorang Direktur ternama sebuah perusahaan yang bergerak
dibidang pertanian di Jakarta, sedangkan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga
seperti orang pada umumnya, dia tidak bekerja melainkan merawat aku dan adikku
tercinta di rumah. Sebetulnya aku bercita- cita untuk menjadi Arsitek kelak
jika dewasa karena aku jago dibidang Seni rupa dan sejenisnya, namun karena
pesan dari almarhum kakekku yang menyuruhku untuk meneruskan riwayat
kesuksesannya yaitu menjadi penyuluh kehutanan, akhirnya aku harus mengalah dan
mau menuruti pesannya yaitu sekolah di SKMA. Arsitek menjadi pilihan yang ku
nomorduakan setelah tamat dari SKMA saat
itu karena ku ingin langsung terjun kedunia kerja dilingkup kehutanan.
Namun keadaan hari ini
membuatku berpikir ulang bahwa hidup memang bagaikan roda yang berputar dan
musim yang berganti sepanjang tahun. Saat aku sekarang menjadi tulang punggung
keluarga bagi ibu dan 1 orang adik perempuanku yang masih duduk dibangku kelas
2 SMP. Ayahku sudah 2 tahun meninggalkanku untuk beristirahat di alam sana, bertemu
dengan Sang Maha Kuasa lantaran tragedi kecelakaan yang menimpanya. Seluruh aset
kekayaan telah habis digunakan untuk berbagai kebutuhan. Sekarang semangatku
adalah satu, yaitu bekerja untuk mengabdi pada kehutanan
juga menjadi tulang punggung keluarga. Tak lupa menabung untuk masa
depanku kelak pastinya.
Aku sadar hari ini
kutelat datang ke tempat kerja, mungkin penyebabnya karena aku begadang semalam
menyaksikan pertandingan sepak bola tim favoritku. Tanpa panjang lebar aku
segera menghampiri pimpinanku, Pak Darwoto di ruangan sebelah ruang kerjaku.
“Maaf sekali pak, hari ini saya
telat datang ke kantor ….” Kataku.
“Kenapa kamu bisa telat ceprut ….” Sahut Pak Darwoto.
Dengan terbata- bata aku menjawab
“Taadi saaya baangun ….”
Belum selesai berbicara Pak Darwoto
langsung menyuruhku untuk mengerjakan tugas yang ia berikan kemarin.
“ Untuk kali ini bapak maafkan ….”
Ucap pak darwoto dengan tegas.
“Terima kasih pak, saya berjanji
tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi.” Balasku.
“Dah sana segera bekerja …” kata
Pak Darwoto.
“Siap pak ….” Sahut suara
lantangku.
Untunglah
Pak darwoto mau memaafkan kesalahanku. Setelah itu aku langsung mengganti
seragamku dengan kaos dan celana PDL, kuambil cangkul digudang dan akupun
bergegas menuju ke areal hutan didekat KPH Limboto. Dengan semangat yang
membara baik jiwa maupun raga aku berusaha untuk menerobos panasnya terik Sang
raja siang yang mulai mengayun dititik tengah peraduannya. Sebelum melanjutkan
pekerjaanku yang kemarin, terlebih dahulu aku lihat lay out persemaian yang akan aku bersama timku buat. Aku, Febrian,
dan Galuh ditugasi oleh Pak Darwoto untuk mengolah areal hutan di petak 4 untuk dijadikan sebuah persemaian. Ditempat
tersebut akan dikembangbiakan berbagai
macam bibit tanaman kehutanan seperti Jati, Mangium, Eukaliptus, Mahoni, dan
lain- lain. Kami pun mulai bekerja dengan membangun sarana dan prasarana
persemaian yaitu meliputi persiapan lapangan yang terdiri dari pemasangan
patok, yang dibuat dengan tinggi kurang lebih 150 cm, diameter kurang lebih 10-
15 cm. Patok dibuat dari kayu yang tahan rayap dan ujungnya diberi cat hitam
serta diberi nomor. Patok ditanam sedalam 50 cm. Pemasangan patok ini bertujuan
untuk membatasi lokasi persemaian dengan lokasi luarnya. Apabila dilokasi
persemaian ada gangguan penggembalaan ternak maupun ada gangguan hewan lainnya
maka sekeliling areal persemaian perlu dipagar misalnya dengan kawat berduri.
Selanjutnya adalah pembersihan lapangan yaitu kegiatan membersihkan areal dari
rumput- rumputan, semak belukar, dan tunggak- tunggak pohon. Bila pada areal
yang akan dijadikan tempat untuk membuat persemaian masih berdiri pohon- pohon,
maka kegiatan ini diawali dengan menebang pohon- pohon, mengumpulkan batang dan
cabang yang besar, menggali tunggak dan mengelurkannya dari areal persemaian.
Hal ini perlu dilakukan karena sisa- sisa kayu dan daun- daunan merupakan
sumber hama dan penyakit yang dapat membahayakan bagi bibit yang akan
diproduksi. Dan pembersihan pun dapat dilakukan secara mekanis ataupun manual.
Lalu setelah itu timku melakukan perataan dan penataan tanah. Perataan
dilakukan hingga kemiringan tanah 1- 5 % agar air tidak menggenang dan tidak
terjadi erosi yang membahayakan. Penataan tanah disesuaikan dengan rencana tata
letak persemaian. Pada kegiatan ini juga perlu dibuat jalan persemaian agar
kendaraan yang m,engangkut bahan dan peralatan persemaian serta bibit yang
dihasilkan dari persemaian dapat dengan mudah keluar masuk areal persemaian.
Langkah selanjutnya timku melaksanakan pengolahan dan pengerasan tanah.
Pengolahan tanah dilakukan setelah kegiatan perataan. Karena persemaian yang
timku bangun tergolong permanen, maka areal yang akan digunakan untuk produksi
bibit dan bangunan perlu diperkeras. Pengerasan dilakukan dengan menggunakan
batu dengan ketebalan 8- 10 cm untuk areal produksi bibit serta 3- 5 cm untuk
bangunan. Setelah tahapan persiapan lapangan selesai maka pembangunan sarana
produksi pokok pun dibuat yaitu meliputi Bedeng tabur, Bedeng Sapih, Wadah Bibit,
Naungan dan Kandang Ternak. Selain itu juga dibangun sarana dan prasarana
penunjang yaitu Selokan, Saluran Irigasi, Jalan Angkutan, Kantor, Operation Room, Tempat Parkir,
Laboratorium, dan Gudang.
7
Hari Kemudian …
Akhirnya aku dan timku
telah selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasanku Pak Darwoto untuk
membangun Persemaian di areal hutan petak 4. Setelah kurang lebih selama 7 hari
menyelesaikan proyek itu, Pak Darwoto pun melakukan survey lapangan untuk
mengevaluasi lokasi persemaian yang telah timku buat. Namun apa yang terjadi,
ternyata Persemaian yang timku buat tidak sesuai kriteria yang diinginkan oleh
Pak Darwoto karena beberapa hal diantaranya seperti pemilihan lokasi, peletakkan
media tabur dan media sapih yang kurang strategis karena agak jauh dari
intensitas penyinaran matahari, lalu kondisi tanah yang kurang mendukung karena
kegagalan yang timku buat pada proses pengerasan tanah, dan belum terdapatnya
harmonisasi antara unsur tanaman kehutanan, semusim, maupun ternak yang dapat
menciptakan realisasi Agroforestri. Untungnya Pak Darwoto masih berbaik hati
kepada timku karena ia memberi waktu kurang lebih selama 5 hari lagi agar timku
dapat memperbaiki kesalahan pada pembuatan lokasi persemaian tersebut. Walaupun
aku cukup kecewa dengan evaluasi yang dilakukan oleh Pak Darwoto yang
menganggap aku dan timku gagal membuat lokasi persemaian, namun aku tetap
menerima hasilnya karena aku ingin kedepan lebih baik lagi dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan. Segera aku menyelesaikan kembali
tugas yang diberikan Pak Darwoto, aku ingin kali ini berhasil, aku harus mampu
membuktikan bahwa aku bisa mengerjakan pekerjaan ini dengan baik dan tidak
mengecewakan pastinya. Setelah berpikir beberapa menit, Aku, Febrian, dan Galuh
pun sepakat untuk membagi pola kerja menjadi 3 bagian agar dapat berjalan
efektif dan efisien. Aku bagian memperbaiki lokasi peletakkan media tabur dan
media sapih agar strategis, sehingga dekat dengan intensitas cahaya matahari. Kemudian
Febrian memperbaiki pola pengerasan tanah yang akan digunakan dalam lokasi
persemaian, dan Galuh menyeleksi tanaman yang tepat untuk digunakan dalam
Pembuatan Agroforestri. Walaupun kami mengerjakannya secara individu tetapi
kami tetap bekerja sama dalam hal perbaikan lokasi persemaian ini, sehingga
nantinya kami dapat memperbaiki areal persemaian yang telah kami buat
sebelumnya.
Tak terasa waktu
berputar begitu cepat, saat aku melihat jam dinding di tempat kerjaku yang telah
menunjukkan Pukul 17.12 WITA. Aku pun langsung bergegas menuju kamar mandi.….
Gebyur …byur …. byur …. Terdengar bunyi siraman air yang membasahi tubuhku.
Kurang lebih 5 menit menghabiskan waktu untuk mandi, segera aku mengambil tas
yang aku letakkan di atas meja kerja dan langsung menuju ke depan gerbang untuk
menunggu Angkutan Desa untuk pulang menuju ke rumah kontrakanku di daerah
Limbangwatan. Setelah menunggu agak lama, akhirnya aku mendapatkan Angkutan
Desa untuk aku naiki. Selama di kendaraan aku memikirkan mengenai Persemaian
yang aku dan timku buat, apakah hasilnya sesuai dengan apa yang dikehendaki
oleh Pak Darwoto ataukah tidak memenuhi. Walaupun hasratku berfikir apabila
persemaian yang telah timku perbaiki telah sesuai dengan syarat dan kriteria
yang ditentukan bahkan timku telah membuat suatu inovasi dalam perbaikan persemaian
tersebut. Tetapi apakah Pak Darwoto akan berfikir sama dengan apa yang timku
fikirkan, tak tahulah, yang pasti apabila Pak Darwoto menilai secara objektif
pasti persemaian yang timku buat telah memenuhi kriteria bahkan lebih dari yang
diharapkan. Namun sebaliknya apabila Pak Darwoto subjektif maka akan memutar
balik fakta dan menganggap Perbaikan tersebut gagal. Akhirnya sampailah aku
didepan rumah kontrakanku, aku langsung mengetuk pintu memanggil Kadek teman
satu kontrakanku.
“Tok … tok … tok …tok … Permisi dek
buka pintunya ! sedang apa kau didalam ?”. Suaraku.
“Oh yo bentar bro, ku lagi nyetrika
pakaian, bentar … “. Jawab Kadek.
“Buru atuh, lila teing sia.” Jawabku.
“Pret…pret (suara pintu terbuka).
Segera
aku masuk ke rumah, melepas seragam, dan mengganti pakaianku dengan pakaian
bebas. Kemudian aku langsung menuju ke ruang tamu untuk menikmati hiburan
sejenak dengan menonton televisi. Tak terasa adzan Isya berkumandang, lalu aku
langsung bergegas untuk melaksanakan Shalat. Dan setelah shalat Isya ku
langsung menuju ke kursi kecil yang berada disudut kamarku. Tanpa disadari,
kuterhenyak dalam lamunan memikirkan tentang kehidupanku di masa depan
nantinya. Kuingin menjadi
seorang rimbawan sejati yang mampu
menyelamatkan hutan dari kerusakan. Kumerasa prihatin terhadap permasalahan
hutan di Indonesia dewasa ini. Kuberharap masa depan kualitas sumber daya hutan
di Indonesia lebih baik, sehingga mampu benar- benar menyejahterakan kehidupan.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.00 WITA, rasa kantukpun hinggap menyergap
diriku sekaligus membangunkanku dari lamunan yang telah membuat diriku
terhenyak beberapa saat. Ku langsung menuju ranjang menengadahkan anggota tubuh
dan akhirnya tertidur dalam suasana heningnya malam. Alarm pun membangunkanku
dari tidur bersamaan dengan berkumandangnya suara adzan Subuh. Segera aku mengambil
air wudhu dan melaksanakan shalat Subuh di Mushola sebelah kontrakanku.
Hari ini mentari bersinar
terang secerah suasana hatiku. Saat tiba di kantor kumerasa aneh lantaran tak
ada satupun rekanku yang hadir, padahal jam dinding menunjukkan pukul 07.00
WITA. Kring … kring… kring … terdengar suara telepon kantor berbunyi dan
langsung kujawab telepon tersebut.
“Halo selamat pagi, dengan siapa
dan ada perlu apa ?”. Tanyaku.
“Saya dari Pihak Kepolisian, apakah
benar ini dari Kantor KPH Limboto”.Sahutnya.
“Ya pak benar, memang ada apa pak”.
Jawabku.
“Saya ingin berbicara dengan Bapak
Arya Wiguna”. Balasnya.
“Ya saya sendiri pak”. Jawabku
dengan rasa canggung.
“Anda harus datang selambat-
lambatnya jam 9 siang ini di Polsek Limboto karena ada sesuatu yang ingin saya
bicarakan kepada anda”. Katanya.
“Oh baik pak saya siap datang
nanti, tapi jika boleh tahu ada masalah apa Pak”. Jawabku dengan nada sedikit
penasaran.
“Anda dilaporkan terlibat dalam
kasus Penjualan Kayu Gelondongan tanpa izin sehingga anda akan kami selidiki
untuk proses lebih lanjut”. Jawabnya.
“Tapi saya tidak merasa terlibat
dalam kasus itu Pak, dan saya tidak mengetahuinya sama sekali”. Balasku dengan
rasa terkejut luar biasa.
“Tidak ada tapi- tapian, intinya
anda ditunggu secepatnya di kantor Polsek Limboto”. Kata terakhirnya sebelum
memutus pembicaraan.
Belum
selesai meneruskan pembicaraan … Tut …Tut …Tut … Suara telepon terputus begitu
saja. Aku merasa heran mengapa tiba- tiba aku mendapat telepon dari pihak
kepolisian, padahal aku tidak terlibat dalam suatu kasus apalagi menyangkut
paut dengan persoalan penjualan kayu gelondongan. Aku pun segera keluar dari
dalam ruang kantor dan betapa terkejutnya aku ketika rekan kerjaku satu kantor
datang dengan tiba- tiba sambil diiringi nyanyian selamat ulang tahun. Memang
aku tidak sadar jika hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke- 20. Hal ini
mungkin dikarenakan aktivitasku yang terlalu sibuk dalam menjalankan rutinitas
kerjaku yang bisa dikatakan padat. Diusiaku yang ke- 20 tahun ini, banyak
diantara rekan kerjaku yang memberiku ucapan selamat dan bingkisan kado yang
berharga pastinya. Kejutan pun datang lagi dari Pak Darwoto yang secara tiba-
tiba datang memberikan jabatan tangan mengucapkan selamat kepadaku dan
sekaligus memberikan apresiasi kepada timku karena berhasil membangun dan
memperbaiki areal persemaian yang ditugaskannya serta alangkahkah bahagianya
aku ketika Pak Darwoto secara jelas memberikan Surat SK kepadaku perihal
kenaikan pangkat atau golongan kerja yang awalnya II B menjadi II C sehingga
otomatis peran kerjaku di KPH Limboto akan berubah dan besar gaji yang diterima
pun akan bertambah. Tak terasa usiaku saat ini telah menginjak 20 tahun, sebuah
usia yang menurutku sudah dewasa dan diusiaku tersebut aku telah mempunyai
pekerjaan tetap di lingkup kehutanan. Aku berkeinginan untuk terus meningkatkan
kinerjaku agar kualitasku semakin meningkat kearah yang lebih baik pastinya
dalam mengabdi pada pekerjaanku.
Sebagai seorang rimbawan sejati aku telah dididik
untuk menanamkan jiwa Korsa atau kebersamaan. Rasa Korsa tersebut terbentuk dan
terpupuk karena aku selama 3 tahun lamanya mengenyam pendidikan di SKMA
(Sekolah Kehutanan menengah Atas). Di sekolah tersebutlah aku dapat belajar dan
mengenal berbagai hal yang berbeda dengan sekolah lain pada umumnya. Tidak
hanya belajar materi pembelajaran, namun aku juga diajarkan pentingnya arti
sebuah kedewasaan, kemandirian, dan komitmen yang pastinya sangat berguna bagi
diriku karena manfaatnya telah aku rasakan sekarang. Di SKMA aku dididik untuk
siap menjadi tenaga teknis lapangan yang handal dan professional dalam menekuni
bidang keahlian kehutanan. Memang tidak pernah terfikir dan terbayang ketika
usiaku kanak- kanak untuk menjadi seperti sekarang ini, namun aku mengerti
Tuhan Yang Maha Kuasa lah yang menentukan semua ini karena takdir dan proses
kehidupanlah yang dapat merubah keinginan seseorang dan aku menyadari setiap
cita- cita yng kita inginkan saat masih kecil belum pasti akan tercapai secara
konkret seperti apa yang diharapkan karena proses kehidupanlah yang dapat
menentukan semuanya.
Setiap
orang yang hidup pasti mempunyai target maupun tujuan hidup masing- masing yang
ingin mereka wujudkan. Saat ini aku mengabdi penuh di lingkup kehutanan,
permasalahan- permasalahan yang muncul di dunia kehutanan membuatku sadar bahwa
betapa dibutuhkannya peranku untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut. Keserakahan
manusia yang tidak bijak dalam memanfaatkan sumber daya hutan membuat kualitas
hutan di Indonesia mengalami penurunan. Penebangan hutan secara liar,
illegalloging, penangkapan satwa tanpa izin, kebakaran hutan, dan alih fungsi
areal hutan merupakan serangkaian kasus yang menimbulkan dampak buruk terhadap
lingkungan yang pastinya bersifat merugikan. Aku berharap diriku mampu menjadi
subyek yang mampu memperbaiki semuanya kearah yang lebih baik, karena aku tahu
betapa pentingnya fungsi hutan dalam menunjang keberlangsungan hidup umat
manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar